Acara dan Pertemuan:
Indonesia dan Timor Lorosa’e dalam
politik Jerman dan UE:
Dokumentasi menyeluruh dapatkan dalam Dokumentationsbrief Indonesien
5/2005 yang dapat dipesan di EMS (Vogelsangstr. 62, 70197 Stuttgart, Telp.
0711/636 78-62, e-mail: info@ems-online.org)
atau download dari internet:
http://www.ems-online.org/fileadmin/download/Doku_Infobriefe/Indonesien/Dokubrief_Indonesien5_05.pdf
Sven Hansen mengenai hasil konperensi:
http://fesportal.fes.de/pls/portal30/docs/FOLDER/WORLDWIDE/ASIEN/BERICHTE/BERICHTE2005/TSUNAMIHANSEN1205.PDF
Brosur konperensi „A New Dynamic for Peace? Post-Tsunami Reconstruction
and its Impact on Conflict Resolution. Case studies from India, Indonesia,
Sri Lanka and Thailand” dapatkan di:
http://fesportal.fes.de/pls/portal30/docs/FOLDER/WORLDWIDE/ASIEN/BERICHTE/BERICHTE2005/BROSCHUERETSUNAMI11.05.PDF
„Kesedian seluruh dunia memberikan bantuan berhasil mengelak satu per satu bencana. Kini saatnya menghadapi tantangan besar rekonstruksi“, kata Dietrich Garlichs, direktur UNICEF Jerman. 150 dari 200 sekolah bantuan yang direncanakan diusahakan akan selesai akhir tahun ini. Mulai tahun 2006 UNICEF mulai dengan pembangunan 200 pusat kesehatan. Untuk tiga tahun berikutnya sudah ada rencana membangun 300 sekolah aman gempa dan membangun ulang 200 sekolah rusak.
Untuk korban tsunami di Asia, UNICEF Jerman mengumpulkan dana total senilai 99 juta Euro, darinya 53,1 juta Euro untuk bantuan darurat dan jangka waktu menengah, dan sisanya mulai tahun 2006 untuk rekonstruksi jangka panjang dan pelayanan anak-anak diseluruh kawasan terkena tsunami.
Jumlah dana total 74,5 juta Euro berupa saluran dana dan subsidi umum telah dikumpulkan lima kelompok kerja bantuan Jerman yang bekerjasama dalam gabungan „Gemeinsam für Menschen in Not – Entwicklung hilft!“ untuk membantu para korban di kawasan terkena tsunami. Mereka adalah „Brot fuer die Welt“, Deutsche Welthungerhilfe, medico international, Misereor, dan terre des hommes. Lima lembaga itu bekerja sama dengan organisasi-organisasi mitra lokal di kawasan terkena tsunami. Cara ini bisa menjamin, bahwa dana hanya akan disalurkan pada bantuan yang langsung meraih penduduk setempat. Yang disokong adalah proyek-proyek yang bertujuan membangun ulang landasan eksistensi para nelayan, petani dan keluarga para tukang. Titik berat lainnya adalah pembangunan ulang tempat tinggal dan sekolah dan juga penyediaan air bersih dan fasilitas MCK. Selain itu, organisasi gabungan juga menyokong upaya bimbingan psikologis kepada anak-anak yang kehilangan sanak saudaranya karena bencana tsunami. Untuk bantuan darurat dan rekonstruksi, gabungan organisasi-organisasi itu menyediakan 33,28 juta Euro yang merupakan bagian terbesar dana bantuan.
Dengan bantuan darurat senilai satu juta Euro Malteser International mendanai bantuan berkelanjutan dan masa peralihan ke tahap rekonstruksi. Di tahun pertama rekonstruksi Malteser International membimbing lebih dari 65 proyek di Indonesia, Sri Lanka, India dan Thailand. Sampai kini 8,7 juta Euro dari keseluruhan dana bantuan senilai 30 juta Euro telah disalurkan ke proyek-proyek itu.
Bantuan di Indonesia khususnya disalurkan untuk rekonstruksi infrastruktur jasa pelayanan kesehatan dan desa-desa nelayan. Di semua kawasan terkena tsunami di tahun-tahun mendatang direncanakan upaya bantuan dengan jumlah dana bantuan senilai 20 juta Euro.
WFP-PBB: http://www.wfp.org
UNICEF: http://www.unicef.de/3141.html
Informasi UNICEF: „Satu Tahun setelah Tsunami“ lihat laporan
Bündnis „Gemeinsam für Menschen in Not – Entwicklung hilft!:
http://www.entwicklung-hilft.de/presse/05-12-02.html
Penilaian terperinci dan uraian dukunan proyek setiap organisasi: http://www.entwicklung-hilft.de
Malteser Hilfsdienst:
http://www.malteser.de/1.08.Aktuelles/1.08.01.Presse_Center/1.08.01.01Presseinfos/presse2000.asp?Anzeige=Yes&Index1=367
Bertentangan dari rekomendasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Presiden Timor Timur Xanana Gusmão dalam pidato di depan parlamen, tanggal 28 Nopember, dalam rangka penyerahan laporan setebal 2.500 halaman, menolak membuka untuk umum laporan tersebut sekarang. Padahal, telah ada ketentuan hukum bahwa laporan harus dipublikasikan dengan „segera”. „Melalui pidatonya, Presiden Gusmão telah mencabut dukungan politisnya untuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dan menyingkirkannya“, komentar Monika Schlicher dari Watch Indonesia!. Tugas Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Timor meliputi penyelidikan pelanggaran HAM sejak April 1974 sampai Oktober 1999, pada waktu militer Indonesia meninggalkan Timor Timor, pelaksanaan proses rekonsiliasi untuk kasus pelanggaran HAM ringan serta penyusunan laporan akhir berisikan rekomendasi. „Jika parlamen mengikuti keinginan Presiden Xanana Gusmão, harapan-harapan terhadap Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, khususnya yang datang dari pihak korban dan keluarganya, akan punah. Jika kebenaran mengenai ketidakadilan dan aksi kekerasan tidak diikuti konsekuensi untuk para pelaku pelanggaran, maka ini akan menguatkan posisi para pelaku dan meninggalkan para korban untuk kesekian kalinya dalam situasi ketidakberdayaan dan perasaan terluka“, kata Daniel Bogner dari Komisi Jerman Justitia et Pax.
International Center for Transitional Justice (ICTJ) menekankan pentingnya fungsi laporan akhir sebagai tumpuan ingatan terhadap impunitas yang dinikmati para pelaku pelanggaran HAM. „Hak penduduk Timor Lorosa’e untuk mengetahui segala kebenaran selama masa pendudukan tidak boleh dibekukan“, kata Eduardo Gonzales dari ICTJ. Selanjutnya ia juga mengingatkan, „setiap pengunduran waktu publikasi patut dinilai sebagai sikap tidak mampu menghadapi masa lalu dengan semestinya dan turut mendukung impunitas terhadap para pelaku pelanggaran HAM di Indonesia dan Timor Timur“.
Hanya jika laporan itu dibuka dengan umum, maka kesungguh-sungguhan dalam menanggapi rekomendasi dan pelanggaran HAM dan sikap pemerintah Timor Lorosa’e dan juga masyarakat internasional membela hak para korban untuk mendapatkan keadilan dan rekonsiliasi dapat dijamin, demikian pernyataan amnesty international.
Adalah sangat tinggi nilainya, membuka untuk umum hasil laporan di Timor Lorosa’e, supaya setiap orang dapat membentuk pandangannya, tegas Catholic Institute for International Relations (CIIR). Presiden Gusmão antara lain menjelaskan sikapnya, bahwa rekomendasi dalam laporan akhir Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi itu bisa disalahgunakan untuk manipulasi massa.
MISEREOR, missio, Komisi Jerman Justitia et Pax dan Watch Indonesia!:
Versi Jerman: http://www.watchindonesia.org/CAVRdt.htm
Versi Inggris: http://www.watchindonesia.org/CAVR.htm
Versi Indonesia: http://www.watchindonesia.org/CAVRind.htm
ICTJ: http://www.ictj.org/downloads/timor.nov28.pdf
Amnesty International: http://web.amnesty.org/library/Index/ENGASA570052005
CIIR East Timor: http://www.ciir.org/Templates/Internal.asp?NodeID=92391
Rettet den Regenwald mendesak pemerintah Jerman dan Komisi UE: Jangan
korbankan hutan rimba untuk bahan energi biologis!
http://www.regenwald.org/rdr_neu/pressemitteilungen.php?id=15
„Dengan demikian Deutsche Bank sebagai Financial Advisor tidak akan ikut serta dalam peralihan perusahaan. Kita telah maju satu langkah. Proyek itu tidak hanya beku. Kita sama sekali tidak akan melakukan apa-apa lagi dengan tema tersebut“, kata Michael Hölz. Atas tekanan beberapa NGO lingkungan hidup, Deutsche Bank tanggal 8 Desember kepada ROBIN WOOD dan NGO lainnya telah menyatakan kesediaannya untuk membekukan sementara aktifitasnya. Baru setelah tersiar berita adanya penandatanganan suatu kontrak sementara untuk ambil alih PT Kiani Kertas oleh UFS dan Deutsche Bank tanggal 10 Desember, NGO lingkungan hidup ROBIN WOOD, Rettet den Regenwald, urgewald dan Global 2000 kembali lagi melayangkan surat protes kepada pimpinan Deutsche Bank dan juga mengumumkan aksi protes diseluruh Jerman tanggal 21 Desember. Pengunduran diri Deutsche Bank akhirnya diumumkan oleh manajer lingkungan hidup DB Michael Hölz pada hari yang sama.
http://www.umwelt.org/robin-wood/german/presse/index-051221.htm
http://www.umwelt.org/robin-wood/german/presse/051209.htm
Informasi lainnya: http://www.watchindonesia.org/Deutsche_Bank.htm
Sebagai berikut isi laporan panjang lebar mengenai penyerahan Papua Barat oleh Belanda kepada administrasi PBB (UNTEA) di bulan Oktober 1962 di bawah tekanan kuat AS. Hanya 7 bulan setelahnya, tanggal 1 Mei 1963, Papua Barat disatukan dengan Republik Indonesia. Referendum PBB tahun 1969, dimana penduduk Papua memilih sikapnya mendukung atau menentang integrasi dengan Indonesia, sama sekali tidak berlangsung dengan bebas ataupun demokratis. 1025 orang pemilih yang sebagian ditunjuk secara acak, dan bukanlah semua orang dewasa berjumlah 800.000 saat itu, memberikan suaranya dibawah intimidasi masif ataupun pengaruh uang untuk Indonesia. PBB menonton permainan palsu itu tanpa bergeming dan melegitimasi hasil referendum.
Profesor Drooglever memperkenalkan karyanya tanggal 15 Nopember di perpustakaan
raja di Den Haag. Sore harinya ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada
mantan menteri LN Belanda, J. van Aartsen, yang atas sebuah permohonan
sehubungan dengan perdebatan parlamen seputar keuangan kementrian luar
negeri di bulan Desember 1999 telah meneruskan permintaan melakukan penelitian
kepada Fakultas untuk Sejarah Belanda, yaitu Prof. Drooglever. Dalam pidatonya
Van Aartsen menegaskan, bahwa penelitian tersebut disatu pihak merupakan
hasil kewajiban Belanda guna mengkaji ulang sejarah kolonialismenya – dan
termasuk dalamnya tentu penyerahan Papua Barat oleh Belanda –, tapi dipihak
lainnya karya penggalian sejarah ini tidak akan mempengaruhi hubungan bilateral
antara Belanda dan RI.
/Uwe Hummel
Laporan selengkapnya dalam bahasa Jerman:
http://www.vemission.org/west_papua_netzwerk/nachrichten/nachrichten2005/einf166_05-11-17.html
Drooglever, P.J.: Een Daad van Vrije Keuze: De Papoea's van Westelijke
Nieuw-Guinea en de grenzen van het zelfbeschikkingsrecht. (bahasa Belanda),
Verlag Boom, Amsterdam, 2005. ISBN 9085061784, Harga Euro 45 tambah porto
Informasi tambahan mengenai buku, pemesanan, proyek dan penulis:
http://www.inghist.nl/Nieuws/Actueel/06AFC
http://www.inghist.nl/Instituut/Medewerker/PieterDrooglever
Tanggal 7 Desember 2005 120 pengambil keputusan lokal, wakil-wakil organisasi humaniter dan lembaga-lembaga lokal penting dan juga pakar pendidikan dan pengusaha telah bertemu untuk bersama-sama mengadakan penilaian, bertukar pandangan mengenai proyek dan merancang perspeksi masa depan. „Saya sungguh terkesan, begitu banyak warga yang telah merencanakan aksi dana untuk tahun depan dan memungkinkan pengadaan kemitraan jangka panjang“, kata Christina Rau.
Sampai kini tercatat ada 1.300 penawaran bantuan yang diterima biro pelayanan jasa Inisiatif Kemitraan InWEnt di Bonn, dan kebanyakan dari mereka dengan bantuan kantor-kantor mitra dari Kedutaan Jerman disalurkan kepada proyek rekonstruksi di kawasan terkena tsunami, demikian penilaian positif Inisiatif Kemitraan. Kini, sekurangnya ada 300 proyek kemitraan sangat beragam tengah berlangsung. Kebanyakan adalah proyek pembangunan tempat tinggal dan sekolah, khususnya di Sri Lanka dan Indonesia. Di Thailand banyak didirikan rumah sakit kemitraan. Di semua negara mitra dari Jerman mendukung penjualan atau perbaikan kapal-kapal nelayan dan berbagai bentuk bantuan belajar mandiri. Inisiatif Kemitraan kebanyakan mengadakan jalinan hubungan antara para penawar bantuan dengan satu organisasi humaniter sebagai mitra kooperatif. Kerjasama yang baik dengan organisasi bantuan humaniter sangat ikut menentukan keberhasilan upaya rekonstruksi. Christina Rau berterima kasih pada mitra-mitra Jerman untuk segala upaya dan perhatiannya untuk penduduk di kawasan Asia Selatan dan Tenggara.
BMZ: http://www.bmz.de/de/presse/aktuelleMeldungen/20051208_Tsunami/
BMZ-Flyer: Ein Jahr nach der Tsunami-Katastrophe – eine Zwischenbilanz
des deutschen Beitrags zum Wiederaufbau:
http://www.bmz.de/de/presse/aktuelleMeldungen/20051208_Tsunami/flyer.pdf
Brosu BMZ: Zwischenbilanz des deutschen Beitrags zum Wiederaufbau:
http://www.bmz.de/de/presse/aktuelleMeldungen/20051208_Tsunami/broschuere.pdf
Inisiatif Kemitraan:
http://www.partnerschaftsinitiative.de/presse/presse-pmdreizehn.html
http://www.partnerschaftsinitiative.de/presse/presse-pzwoelf.html
Biro pelayanan jasa inisiatif kemitraan, InWEnt: Ein Jahr nach dem
Tsunami. Kommunale Partnerschaften flankieren den nachhaltigen Wiederaufbau,
Stand Dezember 2005
dan: Statistik der Servicestelle: Statistik über die registrierten
Angebote aus Deutschland sowie die vermittelten Bedarfe, Stand 7.12.2005:
http://www.partnerschaftsinitiative.de/presse/presse-start.html
Berita-berita yang dapat dikonsumsi masyarakat umum itu umpamanya ditemukan di tulisan seputar tema konflik Maluku yang menyamaratakan penggunaan kosa kata seperti „Yahudi“, „Kristen“, „Pejuang salib“, „Zionis“ dan „Orang Amerika“. Tulisan dengan nada demikian juga ditemukan di berbagai media massa tertulis, umpamanya koran „Republika“ yang pemberitaanya terkadang tidak melalui pemeriksaan seksama.
Sikap pemerintah AS dibawah pimpinan presiden Bush, yang mengaku mewakili pihak „yang benar“ dan „yang baik“ telah membatasi kaum Muslim sebagai pihak „yang lainnya“. Pengucilan sepihak demikian telah menimbulkan sikap membela diri.
http://www.eastwestcenter.org/reurl.asp?url=stored/pdfs/PS018%2Epdf
http://www.eastwestcenter.org/reurl.asp?url=stored/pdfs/PS020%2Epdf
Diskriminasi khususnya dialami oleh penganut agamais minoritas yang aliran kepercayaannya tidak mendapat pengakuan resmi karena diluar dari lima agama yang diakui negara seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Contohnya terjadi pada penganut konghuzu yang menjadi korban sikap sewenang-wenang lembaga pemerintahan saat mendaftarkan pernikahan atau kelahiran anak. Hal ini telah menggerakkan beberapa NGO untuk menyerukan penghapusan kategori agama dalam KTP.
Keberadaan Islam di Indonesia selama masa pengamatan dinilai toleran. Aceh adalah satu-satunya propinsi dengan dewan perhukuman sharia. Pemerintah AS mengakui ikut menyelenggarakan beberapa program pendukung hal kebebasan beragama dan toleransi antar agama dan juga melakukan langkah-langkah guna menunjukkan pada penduduk Indonesia rasa hormat terhadap agama Islam.
http://www.state.gov/g/drl/rls/irf/2005/51512.htm
Salah satu konfrontasi yang paling dahsyat terjadi bulan Februari 2005. Hal bermula dengan keputusan pemerintah mencoret mata pelajaran agama dari kurikulum pengajaran, dan menggantinya dengan pendidikan agama diluar jam sekolah reguler yang tidak mendapat dukungan pemerintah. Keputusan ini ditolak mentah-mentah oleh pihak gereja. Baru setelah gereja Katholik berdemonstrasi selama tiga minggu dengan massa mencapai 10.000 orang - demonstrasi terbesar semenjak kemerdekaan – keputusan tersebut akhirnya dicabut. Bersamaan dengan itu dibentuklah suatu dewan penasihat yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil pemerintah dan organisasi agama, juga umat agama minoritas Kristen Prostestan dan Islam.
http://www.state.gov/g/drl/rls/irf/2005/51510.htm
Reintegrasi pendukung GAM dan menerapkan isi kesepakatan politis di Helsinki menurut ICG adalah rintangan terbesar yang masih harus diselesaikan. Untuk memastikan pihak-pihak yang akan diberikan bantuan reintegrasi, pihak Indonesia minta daftar nama dari 3.000 mantan pejuang GAM yang akan dibantu. Permintaan data-data pribadi perorangan ini sampai kini tidak bersedia dipenuhi. Jalinan saling percaya antar kedua mantan partai berkonflik masih memerlukan banyak perbaikan.
Menurut ICG, untuk menerapkan hasil kesepakatan politis Helsinki dibutuhkan aturan hukum yang dikeluarkan parlamen Indonesia di Jakarta. Sebuah rancangan UU yang melibatkan masyarakat sipil dan diajukan oleh parlamen propinsi Aceh sudah ada. ICG memandang kritis aturan-aturan perihal pembentukan partai-partai lokal dan juga diskusi yang kembali hangat mengenai pembagian propinsi.
Misi pemantau internasional Aceh Monitoring Mission (AMM) yang dibentuk wakil-wakil UE dan ASEAN mendapat kepercayaan penuh dari semua pihak. Mandat terbatas enam bulan AMM akan berakhir 15 Maret 2006. Tanpa kehadiran AMM, langkah-langkah untuk melengkapi implementasi kesepakatan perdamaian dikuatirkan tidak akan berlangsung dengan mulus.
http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?l=1&id=3831
Monika Schlicher: Le Timor oriental fait face à son histoire
- le travail de la Commission d’accueil, de vérité et de
réconciliation, Missio, Droits de l’homme 25, Aachen 2005
Hardcopy:
http://www.missio-aachen.de/angebote-medien/shop/menschenrechte/25OsttimorF.asp#0
Online Version:
http://www.missio-aachen.de/Images/25%20OsttimorF_tcm14-36797.pdf
Monika Schlicher: Osttimor stellt sich seiner Vergangenheit - Die Arbeit
der Empfangs-, Wahrheits- und Versöhnungskommission, erschienen in
der Reihe missio Menschenrechte (ISSN 1618-6222)
Gedruckte Ausgabe (Best. Nr. 600 281) kostenlos online zu bestellen
unter:
http://www.missio-aachen.de/angebote-medien/shop/menschenrechte/25OsttimorD.asp#0
Online Version:
http://home.snafu.de/Osttimor_Vergangenheit.pdf
Richard Chauvel: Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity,
and Adaptation, East-West Center Washington, Policy Studies, No. 14
http://www.eastwestcenter.org/reurl.asp?url=stored/pdfs/PS014%2Epdf
Anthony Bulbao & Greg Fealy: Between The Global And The Local. Islamism,
The Middle East, And Indonesia. The Brookings Project On U.S. Policy Towards
The Islamic World, Analysis Paper Number 9, Oktober 2005
http://www.brookings.edu/dybdocroot/fp/saban/analysis/20051101bubalo_fealy.pdf
The Asia Foundation: The Aceh Rehabilitation and Reconstruction Appraisal
(ARRA). Complete Findings Report. Phase 1: Health and Education Services,
Housing, Distribution of Survival Allowances, Restoration of Ownership
Documents, and Economic Recovery, November 2005
http://www.asiafoundation.org/pdf/ARRA_report.pdf
UNICEF-Information: Ein Jahr nach dem Tsunami:
Ein Wiederaufbau für die Kinder. Erfolgreiche Nothilfe – langfristiger
Wiederaufbau, 30. November 2005
http://www.unicef.de/fileadmin/content_media/presse/fotomaterial/Erdbeben_Asien/Info_Tsunami_2005.pdf
Anett Keller: Frieden für Aceh? Perspektiven nach dem Abkommen
zwischen indonesischer Regierung und GAM, Friedrich-Ebert-Stiftung, Kurzberichte
aus der internationalen Entwicklungszusammenarbeit, Asien und Pazifik,
November 2005
http://fesportal.fes.de/pls/portal30/docs/FOLDER/WORLDWIDE/ASIEN/KURZBERICHTE/KBINDONESIEN11.05KELLER.PDF
Henning Effner: Islamische Bildung und Erziehung an Koranschulen in
Süd- und Südostasien: Problemfelder und Reformansätze, Friedrich-Ebert-Stiftung
Indonesien, Oktober 2005
http://fesportal.fes.de/pls/portal30/docs/FOLDER/WORLDWIDE/ASIEN/BERICHTE/BERICHTE2005/INDONESIEN1005_KORANSCHULEN.PDF
Johannes Herrmann: Unter dem Schatten von Garudas Schwingen. Chancen
und Probleme nationaler Integration in Indonesien. Geschichte, Ideologie,
Religion, Recht, Wettenberg 2005. 276 Seiten, 20 Euro
Das Buch kann über den Buchhandel oder direkt beim Autor (mail@jhjj.de,
Tel. 0641/8778712) bestellt werden. Weitere Informationen zum Buch und
eine Leseprobe unter:
http://www.jhjj.de
Diakonie-Katastrophenhilfe: Tsunami 2004. Dokumentation
http://www.diakonie-katastrophenhilfe.de/downloads/DKH_tsunami-dokumentation.pdf
Penerbit: Watch Indonesia!
e.V. Bekerjasama dengan Umverteilen! Yayasan untuk Dunia Solidaritas
Redaksi: Alex Flor, Marianne
Klute, Monika Schlicher, Petra Stockmann, Tia Mboeik
Layanan Informasi ini
mendapat dukungan sarana Evangelischer Entwicklungsdienst (EED)
| Zurück zur Hauptseite | Watch Indonesia! e.V. | Back to Mainpage |